Ranting tak Hilang
Satu
tahun yang begitu berarti. Sulit terlupakan, sungguh berdosa jika dilakukan.
Ranting itu kini telah jatuh, katanya. Tenanglah, jatuh di tempat yang tak jauh
dari pohon yang sama. Dibalik ranting yang bertahan, ada dahan yang menguatkan,
dibalik dahan yang kuat, ada pohon yang menegarkan, dibalik pohon yang tegar,
ada akar tersembunyi yang mampu menopang taufan.
Inilah kami. Aku tak jatuh,
apalagi hilang terhembus angin malam. Ranting itu ada, membekas di dahan.
Tenanglah, ranting baru kan segera muncul menggantikan ranting yang jatuh.
Walau tak sekokoh ranting dulu, katanya.
Berbicara
keegoisan, itu sudah kodratnya. Namun jika surga menjadi warisan, ikhlas
penggantinya. Sebenarnya, tak ada alasan mengapa ranting itu jatuh. Ranting
ingin terus bertahan bersama ranting lainnya. Melawan hantaman taufan bersama
bahkan merasakan dinginnya malam. Lebih baik jika jika pohon itu tumbang, maka
semua elemennya akan jatuh secara bersamaan. Kembali bersama menuju keabadian.
Jika seandainya ranting tahu taufan akan datang, ia memilih tuk tidak menjadi
bagian dari elemen pada pohon itu. Daripada
ia harus jatuh, melihat ranting lainnya dari atas tanah, lalu hilang..
Ranting jatuh itu tetap tumbuh.
Masa depannya baru saja dimulai. Ranting itu, Aku.
Komentar
Posting Komentar