Social Teaching
Apalah arti menuntut ilmu jika tak berguna bagi sekitar. Itulah ambisi ku menyeberang ke perguruan tinggi. 2 Mei 2016, saat itu tepat peringatan Hari Pendidikan Nasional yang sering disingkat Hardiknas. Momen yang seharusnya diisi suka cita serta menyambut nya dengan semangat tinggi, justru tragedi berdarah terjadi. Mulai dari pembunuhan seorang dosen di Medan, pembunuhan mahasiswi di Yogyakarta bahan hingga kasus pelecehan seksual antara dosen dan mahasiswi. Sungguh ironis, perjuangan pendidikan yang skandal justru menyumbang pita hitam di hati para pendekar ilmu. Sebagai jiwa kawula muda, bukankah kami yang akan meneruskan perjuangan bangsa ini? Tepat pada Hardiknas, aku di telfon oleh dosen ku yang begitu aku segani. Ibu Dr. Weti
Sebelumya, aku sempat mengutarakan keinginan ku akan mengajar. Jika dipikir-pikir, sulit menang jika harus mengajar di masa semester 1. Hingga akhirnya, beliau memutuskan untuk memberikan ku peluang mengajar di rumahnya ketika awal memasuki semester 2. Sungguh liar biasa. Mental ku harus kiat betul. Walaupun sekadar mengajar anak sekolah dasar, inilah pengalaman pertama ku mengajar. Bisa dibilang, ini merupakan pendidikan informal. Jumlah siswa nya pun tak lebih dari 10 murid. Meski begitu, anak kecil tetaplah manusia. Dan tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. Ruangan yang cukup sempit, tak melunturkan sedikit pun semangat yang ku miliki. Justru, dengan begitu aku bisa lebih dekat dan mengetahui lebih jauh kemampuan setiap anak didik.
Pengalaman pertama mengajar, tentu tidak semudah seperi yang orang lihat kebanyakan. Disinilah aku menyadari begitu pentingnya strategi. Iya,segala strategi. Terutama strategi pembelajaran. Entah apa yang harus aku katakan terlebih dahulu? Setelah itu, apa yang harus aku lakukan berikutnya? Sungguh, ini membingungkan. Belum lagi ibu Dr. Weti yang senantiasa mengawasi ku mengajar. Dalan satu ruangan yang sama, aku ditemani oleh rekan seperjuangan ku, Yudha.
Keesokan harinya, aku bersama Yudha mengajar kembali seusai kuliah. Sekitar 7 menit untuk mencapai lokasi, Jl. Kandang Perahu, Sunyaragi, Kota Cirebon. Belajar dari pengakuan sebelumnya, aku mendiskusikan terlebih dahulu tentang materi ajar hari ini bersama Yudha. Tidak mudah menang mengajak anak-anak untuk belajar di waktu luang. Sesampainya aku ke lokasi, banyak dari mereka fantastik bermain, memohon tv dan sebagainya. Sehingga suami dari ibu Dr. Weti pun ikut andil dalam mengajak anak-anak belajar. Terimakasih pak sudah membantu kami ^^. Kurang dari 30 menit, mereka berkumpul dalam ruangan cukup sempit itu.
Di rumah yang sederhana, tak kusangka terdapat segelintir kebahagian orang kain yang tak kudapatkan di manapun. Di sudut rumah sederhana, terdapat ruangan kecil penuh kebahagiaan. Belum lagi perpustakaan yang berisi tumpukan buku. Aku senang berada disini.
Kali ini, aku sedikit siap. Setelah memikirkan konsep belajar, aku memulai pembelajaran dengan mengucap salam, membaca do'a hingga menanyakan kabar mereka. Tak banyak dari mereka yang antusias belajar di sore hari. Belum lagi ketika pembelajaran berlangsung, aku harus membagi waktu belajar mereka untuk sholat ashar. Bukankah mengajak anak untuk sholat tepat waktu juga merupakan proses belajar? Walaupun tak terdapat dalam rpp singkat ku ^^. Usai sholat, aku melanjutkan kembali mengajar. Mereka sangat antusias kala belajar matematika. Entah apa alasannya, mungkin matematika memiliki misteri hingga membuat penasaran menguak jawaban di balik soalnya. Untung saja masih kecil, matematika bisa jadi kawan. Jika dewasa nanti, bisa saja jadi lawan.
Kembali pada pembelajaran. Setiap detik nya, aku senantiasa memperhatikan anak-anak. Tak ku sangka, walaupun mereka berasal dari sekolah yang sama, perilaku mereka tetap saja berbeda. Lantas ku tanyakan pada bu Dr. Weti. Menurutnya, tingkah kaku anak bisa saja di pengaruhi karena keluarga mereka. Meski sekolah, lingkungan, maupun teman yang sama, tetap saja keluarga turut sumbangsih paling besar.
Perbedaan karakter mereka, membuat ku semakin mengerti bahwa anak membutuhkan perhatian khusus demi perkembangannya. Kejadian lucu, memalukan, hingga takjub pun tertuang dalam secangkir kehangatan ruang kecil itu.
Komentar
Posting Komentar