Ruang Iklan

Ma'had Story

Hari ke-5 di Ma'had Al-Jami'ah
Bangun pagi dibangkitkan oleh alarm atau pun ibu memang sudah biasa. Selama empat bulan kedepan, setiap hari pukul 03.00 pagi toa bergemuruh. Ia toa. Semacam corong yang gak begitu besar tapi suaranya naudzubillah. Apalagi ketika corong itu bergema di dalam ma'had pukul tiga pagi. Siapa juga yang bisa tidur dalam kondisi super gaduh? Memang, suara yang dilantunkan adalah ayat-ayat suci Al Qur'an dari seseorang. Meski begitu, yang namanya berisik, tetap saja berisik. Mau tidak mau, 3.30 pagi cuusss pergi mandi. Jangan tanya mandi disana seperti apa, gak jauh berbeda seperti asrama-asrama lainnya. Bisa disebut, ma'had ini serupa asrama pesantren gitu. So, 3.30 pagi ke kamar mandi ya gak ada siapa-siapa. Takut? Mau balik? Jangan dulu! Ini ma'had. So, kalo mau balik kanan, mau ga mau kamu ga akan dapat air nanti. Jangan sampe deh ke kampus ga mandi. Biasanya, musyrifah membangunkan aku dan teman-teman untuk melakukan tadarus pagi. Tidak semua. Dalam satu asrama besar, setiap kamar berisi 4 orang. Dan satu kelompok berisi 15-18 orang. Dan yang mengisi tadarus setiap harinya adalah satu kelompok tertentu. Setiap orang pasti dapat giliran mengaji plus didengar semua penghuni ma'had. Bagi kamu yang belum bisa mengaji dengan tartil yang benar, jangan malu. Aku pun datang untuk belajar. Toh pada akhirnya suara kamu yang merdu ketika mengaji itu akan didengar oleh semua penghuni melalui toa bising itu.
Jika telah usai, tandanya kami semua harus turun ke bawah untuk menunaikan sholat shubuh berjama'ah. Lantai paling bawah terdapat ruangan yang biasa digunakan untuk sholat berjamaah. Katakanlah mushola, sederhananya. Karena mahasantri yang memenuhi kuota, sebagian berada di luar ruangan. Ruangan luar mushola itu juga tempat kami belajar. Meski begitu, tak mengganggu ke-khusyuk-an kami. Sholat diiringi doa bersama. Seluruh mahasantri dan musyrifah lantang penuh hikmah melantunkan doa, shalawat dan asma-asma Allah. Kami datang untuk belajar. Ini dia waktunya. Seusai berdo'a, kami melanjutkan perjuangan untuk belajar. Apa yang di pelajari? Namanya juga ma'had, ga jauh berbeda dengan pesantren pada umumnya. Al Qur'an, kajian fiqih, bahasa Arab dan English setiap kelompok memiliki jadwalnya masing-masing. Belum lagi setiap hari Jumat ada kajian kitab kuning. Pagi-pagi seusai shubuh dengerin orang ngomong panjang lebar. Ngantuk. Iya ngantuk. 
Kebetulan, hari ini belum masuk perkuliahan. Dua hari lagi, kesibukan dimulai. Gimana si rasanya tinggal disini? Ga jauh dari rasa bete, sepi, kangen orang tua, dan sedikit horor mungkin. Bicara tentang temen sekamar, jujur aku ga begitu dekat. Ya, hitung- hitung adaptasi kali ya. Karakter kami memang berbeda satu sama lain. Yang penting satu jurusan. So, kalo ngerjain tugas bisa bareng- bareng gitu. Struggling disini ga main-main. Di akhir ma'had juga ada ujian. Sertifikat inilah yang bisa sedikit mempermudah ku ketika munaqosah nanti. Walaupun pada akhirnya tetap saja Allah yang memberikan kemudahan. Salah satunya dengan keberadaan ku disini sekarang. 
Siapa juga yang mau tinggal di ma'had tua ini? Makan seadanya, not allowed to bring rice coocer, kipas angin cukup satu per kamar , bangun jam 3 pagi, belum lagi limit air. Kenapa bisa tinggal di ma'had? Okelah aku cerita disini. Setiap mahasiswa-mahasiswi diwajibkan mengikuti test ma'had sebelum mengikuti perkuliahan. Lalu, apa yang diuji? Kalian taulah. Al Qur'an. Ga semua orang bisa mengaji dengan baik. Maka dari itu, lulusan disini mewajibkan semua mahasiwa nya bisa mengaji dengan baik agar kelak berguna. Certainly, Qur'an lah yang akan membela mu di akhirat nanti. Next, bagi yang nilai nya belum memenuhi syarat, maka layak dan wajib tinggal disini. Salah satunya, aku. Nyaris, nilai padahal beda 1 aja. Bukan waktunya disesali, terima aja. Ini jalan dari Allah agar aku bisa mengaji. Sebenarnya, jarak antara kampus dengan rumah ga begitu jauh. Hanya menempuh perjalanan dengan mobil umum sekitar 40-50 menit.
Semoga dengan adanya keberadaan ku disini bisa mendewasakan ku. Survive disini bisa memberikan pelajaran untuk ku secara pribadi. Kangen ortu. Ya begitulah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

3 Alasan Mengapa Kamu Harus Berbagi di Bulan Suci Ramadhan

Menembus Impian